Diisukan Diminta Mundur oleh Pesaing, Joppy Wenas Tegaskan Tetap Maju di Pilhut Desa Lotta

IMG-20260531-WA0045

Minahasa – Peta persaingan menjelang Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, yang dijadwalkan pada 17 Juni mendatang, mulai memanas. Semangat demokrasi di tingkat desa tercoreng oleh isu miring mengenai adanya tekanan dari oknum sesama calon yang meminta Calon Nomor Urut 1, Joppy Wenas, untuk mundur dari arena kontestasi. Minggu 31/6/2026.

Menanggapi rumor dan tekanan psikologis tersebut, Joppy Wenas angkat bicara dengan nada tegas. Ia mengecam keras adanya upaya penggembosan hak politik yang dinilainya tidak etis dan merusak tatanan demokrasi yang sehat di Desa Lotta.

“Secara etika politik dan asas demokrasi, tindakan meminta sesama calon untuk berhenti atau mundur adalah hal yang sangat tidak wajar. Sebagai calon pemimpin, kita seharusnya memberikan edukasi politik yang cerdas dan santun kepada masyarakat, bukan malah mempertontonkan ambisi yang tidak sehat,” ujar Joppy Wenas saat diwawancarai.

Bagi Joppy, desakan terselubung dari oknum kompetitor tersebut justru menjadi indikator adanya kekhawatiran terhadap besarnya arus dukungan yang mengalir kepada dirinya. Alih-alih surut, tekanan ini justru melipatgandakan energinya untuk terus bertarung hingga hari pencoblosan.

Ia menegaskan, keputusannya untuk maju bukan atas dasar ambisi kekuasaan pribadi, melainkan murni karena memikul amanah dan desakan dari gelombang masyarakat bawah (grassroots) Desa Lotta yang merindukan perbaikan tata kelola pemerintahan desa.

“Saya tegaskan, Joppy Wenas tidak akan mundur selangkah pun. Saya tetap konsisten dan penuh semangat menyambut Pilhut tanggal 17 Juni ini. Dukungan, harapan, dan desakan masyarakat Desa Lotta adalah energi utama saya. Saya tidak bisa mengecewakan warga yang menginginkan perubahan,” kata Wenas.

Lebih lanjut, Joppy menggarisbawahi visi misinya yang akan berfokus pada pembenahan sektor pelayanan publik, transparansi anggaran, serta pemerataan pembangunan infrastruktur desa yang selama ini dinilai belum optimal.

“Bila masyarakat memberikan mandat dan saya terpilih sebagai Hukum Tua, prioritas saya adalah menghadirkan perubahan nyata di Desa Lotta. Kita butuh penyegaran sistem agar desa ini lebih maju, transparan, dan berpihak pada kepentingan rakyat,” ujar Wenas.”

Merespons riak politik yang mulai mencuat ini, sejumlah elemen masyarakat kini mendesak panitia pemilihan dan pengawas Pilhut untuk memperketat pengawasan. Hal ini dinilai penting guna memastikan pesta demokrasi di Desa Lotta berjalan jujur, adil, serta bebas dari intervensi maupun intimidasi antar-calon.

(Cipi)